Banyak orang bilang saya orang PALU
karna tinggal di kota PALU. Eh..... pas di tanya mengenai kota PALU tidak tahu
apa - apa. Aneh ya... ini sedikit informasi tentang kota PALU.
SEJARAH
LEMBAH PALU
Suku kaili adalah suku yang mendiami lembah palu. Atau
bisa disebut juga sebagai suku asli lembah palu. Masyarakat suku ini mendiami
sebagian besar wilayah sulawesi tengah meliputi Kota Palu, Wilayah kabupaten
Donggala, Kabupaten Kulawi, Parigi dan Ampana, Sebagian Kabupaten poso dan
sejumlah kecil mendiami kabupaten lainnya seperti Kabupaten Buol dan kabuaten
Toli-toli.
Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata kaili,
salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku orang palu ini
berasal dari nama pohon dan buah kaili, yang umumnya tumbuh dihutan-hutan
dikawasan daerah ini. Penulis belum pernah membaca penelitian tentang khasanah
budayah daerah ini dalam suatu karya ilmiah yang komprehensif mengenai budaya
dan tradisi masyarakat ini. Tapi paling tidak berdasarkan pengalaman, penulis
dapat mengungkapkan bahwa Bahasa Kaili yang menjadi bahasa dimasyarakat ini
sangatlah unik dan banyak ragamnya. Misalnya bahasa kaili ledo
oleh masyarakat palu, kaili edo bagi masyarakat watunonju,
Kaili inja
bagi masyarakat Bora,
Kaili Tara untuk masyarakat Lasoani, Kaili Ija
untuk masyarakat Lambara, Kaili
ado untuk masyarakat Pakuli….dan
masih banyak lagi …….
Kawasan
Lembah Palu dan sekitarnya beberapa abat yang lampau merupakan dataran
air sungai Palu, dan merupakan suatu wilayah yang menjadi ciri has kebudayaan
dan pemerintahan.
Adat
hidup dinegeri ini khusus lemba Palu saat ini kecamatan Palu Timur dan Palu
Barat, minus kelurahan Tondo, Petobo, dan kecamatan Marawola adalah kerajaan
Palu yang dahulu masuk dalam lingkungan kerajaan Gowa.
Kerajaan
Palu yang terletak di dataran sungai Palu didirikan seorang pangeran yang
berasal dari “MARIMA” diatas Poboya yang bernama “Pue Nggari”. Pue
Ngari bersama rakyat turun dari “Marima” dan tinggal beberapa lama di
“Pantosu”, dan setelah itu pindah lagi di Valangguni kemudian pindah lagi
dilokasi penggaraman saat ini, kemudian pindah lagi ke “Pandapa” nama
sekarang ini Besusu.
Setelah
tinggal dibesusu dibuatlah Istana untuk Pangeran yaitu Pue Nggari dan tempatnya
dibuat dari bahan tanah disusun secara tinggi dan bertingkat. Setelah dibuatkan
Istana di Besusu Pue Nggari kawin lagi dengan Pue Puti dari Dolo, Pue Putih
ini, saudara dari Penguasa dolo yang di sebut pada waktu itu “Bulanggo”
Pue
Nggarai mempunyai tiga orang putera dan dua orang puteri yang berada di Palu
yaitu :
Putera :
-
Lasamaingu
-
Pue Songu dan
-
Andi Lana
Puteri
-
Yenda Bulava dan
-
Pue Rupiah,
Tidak lama Pue Nggari mendiami Lemba
Palu kemudian di ikuti keluarganya dari “Malino” yaitu :
-
Rombongan Yantakalena turun dan
mendiami Kayu Malue
-
Rombongan Pue Voka turun dan
mendiami Vatu Tela
-
Rombongan Pue Nggari turun dilokasi
penggaraman nama saat ini, dan kemudian mendiami Besusu.
Dilokasi penggaraman ini digalilah
sumur oleh seorang keluarga Pue Nggari yang bernama “Rasede”, sumur
inilah yang diberi nama “Buvu Rasede” sampai sekarang.
- Rombongan dari Bulili, Gunung Gawalise dan sekitarnya turun
langsung ke “Tatanga” di bawah kepala suku bernama “Raliangi”, kemudian
langsung mendiamai bulava dan Penggeve tidak lama kemudian
terus kesiranindi.
PERISTIWA BERSEJARAH
Setelah seluruh persyaratan dari
Sombarigowa diterima Pue Nggari maka diadakanlah sebagai berikut :
-
Pengislaman terhadap Pue Nggari
bersama keluarganya yang dilaksanakan oleh Dato Karama dengan istilah “PoVonju
Tevo”
Keluarga-keluarga bangsawan
yang turut di islamkan sebagai berikut :
-
Vua Pinano isteri dari Pue Nggari
-
Lasamaingu
-
Andi lana bersama isteri dari
Tatanga
-
Pue Songu tidak mau di Islamkan
-
Yenda Bulava , suaminya tidak mau di
Islamkan dan tidak menerima agama Islam.
-
Pue Rupiah yang dikenal dengan Pue
Sese
-
Keluarga dari labunggulili keturunan
Dari silalangi. Serta di Islamkan juga Pue Njidi yang Berkedudukan Panggewe.
Setelah persyaratan dari somba ri
gowa di penuhi semuanya Palu di Proklamirkan sebagai kerajaaan yang berdiri
sendiri.
Sesudah terlepas dari kekuasaan somba ri gowa tapi yang dipertahankan adalah :
Kalau Gowa menjadi Rusuh maka palu
menjadi Susah, kalau Palu tidak dapat menyelesaikan masalah di ujungpandang
kapasana.maka disusunlah Pemerintahan sebagai berikut :
-
Magau adalah Pue Nggari
-
Madika Malolo dari keluarga
Silalangi
-
Madika Matua tetap dipegang keluarga
dibesusu
-
Baligau keluarga madika Tatanga
SEJARAH KERAJAAN PALU
Panjaroro
(Pue boNgo) putra dari mbulava lemba pangeran dari bangga. Kawin dengan yenda
bulava. Yenda Bulava puteri pue nggari, magau pertama yang di islamkan pertama
dato karama bersama pemberian payung kerajaan dari Sulawesi Selatan.
Hasil perkawinan pebolai dengan adik magau dolo (pue Puti) pue putih dibuatkan
istana di tangga banggo. Di istana inilah panjororo dilahirkan. Pue inggari
pangeran dari besusu yang menerima payung kerajaan dari Sulawesi Selatan.
Adapun Payung kerajaan yang ada dilemba kaili masing masing :
-
Payung kerajaan palu berasal dari
Gowa yang diBawah Dato Karama diterima pue nggari di besusu pada akhir abad ke
19. payung kerajaan dibawah ketatanga.
-
Payung Kerajaan Dolo bersal dari
bone dibawah Manuraja diterima oleh sumba lemba di palu, kemudian diteruskan
sumba Bulava di Dolo pada waktu itu berkedudukan di Bodi, sumba bulava
pangkatnya magau.
-
Payung kerajaan Sigi berasal dari
Luwu di bawah oleh Towiwa, kemudian towiwa kawin dengan bakulu, hasil
perkawinan dengan bakulu melahirkan saera dan tandalabua, mereka inilah
menurunkan raja raja sigi dan tavaili. Towiwa ini berpangkat Capita pada waktu
itu pusat kerajaan sigi berpusat sigimpu.
-
Puenggari mempunyai dua orang isteri
antara lain isteri pertama dari Bulu Masomba di bawah keistana besusu.
-
Isteri Nibolai Berasal dari Dolo
tinggal di Tangga banggo.
Dilemba kaili pada saat itu ada dua
persekutuan yaitu Rantempanau yang terdiri kerajaan Palu dibawah
Pimpinan Pue Sese
Kerajaan Dolo dibawah Pimpinan Pue
Boga dan Rantempandake yang terdiri dari kerajaan sigi dan Tavaeli
pada saat itu dipimpin oleh “Tomai Bakulu”.
Atas perkawinan pue nggari dengan
pue putih madika dolo lahir dua orang puteri yaitu
1.
… bulava
2.
Daesana
Pue puti semasa kawin dengan Pue
Nggari menempati Istana Tangga Banggo. Istana ini ditempati juga oleh
Yendabulava, Yendabulava dikawini oleh bangsawan dari bangga yang bernama
Mbulawa lemba.Dan hasil perkawinan Yendabulawa dengan Bulawa Lemba lahir
seorang putera bernama “Panjaroro” yang dikenal dengan nama “Pue
Bongo”.
“Daesana” dikawini oleh
bangsawan dari “Tavaili”,
Panjoro yang disebut sekarang dengan
nama “Pue Bonggo” yang berjasa meluaskan kerajaan palu.
Esepansi Panjaroro, kesebelah barat
sampai dengan tanah kasolowa yaitu di Sorodu melahirkan seorang putera
bernama “Tiro lemba”.
Mbangejo Lemba kawin dengan Daeng Mangipi Madika “Bulanggo Dolo”,
hasil perkawinan Mbangejo Lemba dengan Daeng Mangipi Lahir
seorang anak bernama Yaruntasi. Yaruntasi inilah diangkat sebagai Magau
Dolo yang ke 4.
Panjororo juga kawin di Labuan dan
anak dari labuan kawin dengan Makagera (Pue Lemba) Melahirkan Jalalemba,
Limuintan (Madika Randalabuan) kemudian kawin lagi di Maboro dan Palu.
Setelah panjaroro meluaskan kerajaan
Palu kemudian bergerak ke utara sampai kebuol. setelah tiba di buol Panjororo
(Pue Bonggo) tinggal puluhan tahun di Buol
Setelah puluhan tahun di buol
kerajaan Palu diserang dari arah timur dan selatan oleh kerajaan Sigi kecuali
ibu kota kerajaan tidak diserang yaitu Besusu dengan diplomasi Sigi dari
Magau Mombine.
Setelah rombongan Pue Sese dan Pue
Bongo tiba di Palu dibuatlah serangan pembalasan terhadap kerjaan Sigi kemudian
Pue Sese dan Pue Bongo mengatur persiapan pasukan untuk serangan balasan.
Pasukan yang disiapkan terdiri dari :
Pasukan dari Dombu / Gunung Gawalise
dibawah pimpinan Bangsawan Pindagi dari Bangga.
Panjororo juga ikut berperang
langsung sebagai penanggung jawab.
Pue Indate Ngisi dan Pue Mpero sebagai panglima perang.
Pasukan terbagi dua masing masing
dibawah pimpinan Puempero dan Pue Ndatengisi, setelah siap semua
persiapan serangan balasan serangan dilaksanakan pada waktu sigi mengadakan “Salia
Madika “ pesta raja
Pasukan Pue Ndatengisi menyerang
dari arah timur, Pasukan Pue Mpera menyerang dari arah barat yaitu dari dolo.
Kecuali ibu kota kerajaan sigi tidak diserang.
Pasukan dari Palu mengobrak-abrik
Pasukan Sigi yang berada di Vatunonju dan Bora.
Rakyat dari Vatu Nonju bernama Lolu
di jadikan tawanan perang kemudian di bawah ke Palu. Dan sebagian tinggal di
Biromaru, dan rakyat berasal dari Sigi tinggal di Palu kemudian diberian tempat
tinggal yang baru yaitu karena mereka berasal dari Sigi.
Setelah Panjororo membawa kemenangan
melawan pasukan sigi maka diadakan beberapa isi perjanjian :
1.
Diadakan upacara Notiro Uve
yaitu upacara sumpah setia mengeluarkan Batu Putih yang diambil
dari Sigi pada muara sunggai Palu dengan sumpah setia berbunyi : “Meumbapa Vatu
Puti Hie pade Mahancuru Tanah Nupalu”
2.
Diadakan pemindahan ibukota kerajaan
dari besusu keserang sungai Palu bagian barat.
3. Magau kedua yaitu Pue Sese mengadakan Manjingge Toru artinya
melepaskan dan menyerahkan Kaogea
4.
Panjororo Akan dikawinkan dengan
Puteri dari siralangi yang bernama Buse Mbaso, tindakan angka 2, 3, dan
4 disebut diatas dilaksanakan secara damai.
Setelah pue Sese menyerahkan jabatan
magau kepada panjaroro Yang disebut saat ini Pue Bongo yaitu dengan acara
Panjingge Toru ibu kota kerajaan dipindahkan dari besusu kebesusus kota yang
sekarang disebut Kelurahan Baru. Maka terjadilah hal sebagai Berikut :
1.
Panjororo yang disebut Pue Bonggo
dan keturunannya berhak menduduki tahta Magau Palu dengan Bulanggo
2.
Labunggulili dan
dinastinya menduduki jabatan sebagai madika malolo Palu
3.
Keturunan Pue Sese beserta
dinastinya akan menjadi Madika Matua Palu.
4.
Labunggulimu dan dinastinya menjadi Baligau Palu.
Hal-hal tersebut diatas hasil
perjanjian / sumpah setia agar tidak terjadi perebutan kekusaan dikerajaan
Palu. Setelah Panjororo tinggal di Besusu Busi Mbaso dari hasil
perkawinannya lahir seorang anak bernama Malasigi.
Malasigi inilah menggantikan ayahnya sebagai magau kedua untuk
kerajaan Palu. Malasigi mempunyai yang diakui oleh kerajaan yaitu seorang
berkedudukan dibesusu dan seorang lagi berkedudukan di Panggona (Kel. Lere)
saat ini.
Yajibose salah seorang bangsawan yang berpengaruh kuat di dolo. dan
siapa yang berhak menggantikan Yaruntasi, apakah Pue Bengge atau Yanuraja
atau Putra dari Yajibose. dan untuk menyelesaikan masalah ini diadakan
musyawarah dikerajaan antara kerajaan Dolo dengan kerajaan Palu dipimpin oleh
Madika Matua dari Besusu dan hasil musyawarah yaitu dibuatkan baruga lima di kaleke
baruga 7 di dolo.
1.
Saudara dari yanu raja bernama
Satimanuru dikawinkan dengan Jalalolu (pue langgo)
2.
Saudara dari Pue Bengge bernama Pue
mbaso dikawinkan dengan Lasambili
3.
Para Bangsawan Masing Masing
mEnerima upeti yang sama
4.
anak dari pue mbaso dan lasambili
setelah besar akan berkedudukan dikerajaan dolo.
Isteri dari besusu lahir seorang
anak laki-laki yang diberi nama Raja Dewa. Isteri dari panggona ini
keturunan dari Silalangi kemudian lahir seorang anak lakilaki bernama Lamakaraka
(Tondate Dayo).
di kutip dari http://kailingataku.wordpress.com







0 komentar:
Posting Komentar